lebaran kemarin (1)
Awalnya aku merencanakan liburan lebaran kemarin untuk ke Jayapura, setidaknya aku dapat berkumpul dengan keluarga disana, sesuatu yang buatku luar biasa. Tetapi, sejak sebelum ramadhan, aku dihadapkan pada persoalan orang tuaku, yang mau tidak mau, aku harus ikut ambil bagian dalam penyelesaiannya. Setelah berdiskusi dengan Ina pada pertengahan ramadhan, akhirnya aku, atau tepatnya atas saran Ina aku berlibur ke Manado dengan mengemban sebuah misi. 3 hari menjelang libur, datang tawaran pekerjaan luar kantor utnuk mengerjakan sebuah contoh aplikasi dari sebuah kantor pemerintah pusat, sehingga liburan ini aku tetap bekerja.
Tanggal 2 November 2005, berangkat dari jakarta jam 12:00 WIB tepat. Sebelumnya di bandara soekarno hatta mencoba online, tetapi mungkin aku kurang beruntung, sinyal wifi yang aku dapat terlalu lemah. Sempat menelpon ke rumah, untuk memberitahukan bahwa aku akan berangkat, dan segalanya baik-baik saja, dan ibu mengutarakan keinginannya agar setibanya di manado, segera ke jayapura. Aku mengiyakan sambil mensyaratkan bahwa keadaan nantinya bisa akan berubah, tergantung kondisi.
Keadaan cuaca tidak begitu baik, beberapa kali pesawat terguncang semenjak lepas landas. walaupun tidak terjadi hujan. setibanya di makassar, transit selama 40 menit. Ketemu rara si kfc bandara, karena tidak ada tempat buat duduk dan ngobrol. Tidak banyak yang kami bicarakan, karena kemudian ada panggilan kepada penupang tujuan manado agar segera naik pesawat. Rara menitipkan 3 buah bingkisan. Katanya satu buatku, satu buat endhoot, dan satunya lagi terserah buat siapa. Ya.. aku tau maksudnya, Ina kan ?
Kembali berada di kabin pesawat, lepas landas, terguncang-guncang, menikmati pemandangan kabut, sampai akhirnya memasuki manado, cuaca mulai cerah. Banyak pegunugan dan hutan dibawah sana, serta banyak pohon kelapa. Tetapi sayangnya, aku banyak melihat asap dan bara di tengah-tengah pegunungan. Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 17:25 WITeng. Pemandangan yang bagus, saat senja. beberapa lampu rumah sudah menyala, sementara mega kuning tua menyapu beberapa bagian bumi.
Menjlang turun, aku teringat beberapa pesan agar waspada ketika sampai di manado. Tetanggaku pernah bernasib sial, semua uang di atmnya habis dikuras. Pengaruh hipnotislah yang membuatnya rela menyerahkan uangnya pada orang yang sama sekali belum dia kenal. Tapi aku tidak terlalu kuatir, aku sering mengalami keadaan dimana aku diharuskan untuk waspada dan mengkoordinasikan semua anggota tubuh serta berpikir jernih disaat aku sedang lapar. Serta satu kekuatan yang tidak ada bandingnya di dunia, doa.
Aku kemudian berpikir, begitu parahkah imej tentang kota ini selain perempuannya yang cantik-cantik dan ‘berani’. Itu yang aku tangkap dari pendapat-pendapat beberapa orang yang aku temui ketika mendengar kata manado. Tapi aku punya imej tersendiri mengenai manado. Bayanganku manado adalah kota yang bersih, terawat dan teratur. Sama seperti banyak orang manado yang aku temui di jayapura maupun di jawa. Julukanku padanya adalah kota dengan seribu tempat hiburan.
Bandara manado terlihat sepi, mungkin jarang sekali penerbangan malam hari. Bangunan fisiknya tidak tertata dengan baik. Di banyak tempat aku menemui sampah-sampah kecil yang menurutku agak mengganggu. Ini bandara gitu loh, bukan terminal bis. Tapi protesku aku simpan saja dalam pikiran. di luar bandara sudah menunggu adikku. Banyak orang menwarkan kendaraan, dengan bahasa yang sedikit aku mengerti. Pertanyaan pertama adikku adalah bagaimana keadaan bandara. Dan aku mengatakan bahwa bandara ini tidak begitu baik, tapi masih lebih baik dari bandara di jayapura.
Kontak visual pertama aku melihat tipikal kota di indonesia bagian timur. yaitu atap rumah dari seng/zinc, banyak pohon kelapa dan kontur tanah yang bergelombang. banyak jalan menanjak dan berliku, walaupun tidak sedramatis di jayapura. DI beberapa tempat di dalam kota ada kemacetan-kemacetan kecil akibat penumpukkan angkutan kota di beberapa titik depan mal-mal yang lumayan banyak.
Sesampainya di kos adikku, aku mandi, shalat dan telpon ke rumah. Makan malam pertamaku di manado di warung kaki lima di daerah yang namanya boulevard. Menu yang aku pilih adalah ikan kakap yang lumayan besar, tapi sayangnya hanya ada satu pilihan, yaitu di goreng. Padahal ikan bakar akan enak jika dibakar atau dimasak dengan cara yang lain selain digoreng biasa. sayang sekali, walaupun dibeberapa tempat menawarkan masakan yang lebih enak, tapi kami punya pertimbangan sendiri tentang kehalalan makanan tersebut. kami takut makanan tersebut tercampur dengan bahan-bahan yang tidak dihalalkan agama.
Dijalan terlihat beberapa konvoi takbiran dan konvoi bukan takbiran yang ikut meramaikan, walaupun saat itu sedang hujan lebat. setelah menunggu sekian lama, akhirnya hujan reda.
hari pertama.
shalat ied, di masjid kampus unsrat. untuk pertama kalinya aku menyaksikan keadaan kampus yang parah. banyak bangunan yang tidak terawat, tumbuhan dibiarkan begitu saja tumbuh tidak teratur, sampah berserakan di beberapa tempat. banyak jalan-jalan yang rusak parah. ada sebuah kolam yang penuh dengan enceng gondok dengan kondisi sangat tidak terawat, ada jembatan yang menghubungkan kedua sisi yang kondisinya sama saja. komentar pertamaku adalah : PARAH !!!
bagaimana mungkin, barometer lingkungan utopis bagi masyarakat mempunyai kondisi yang sangat parah untuk standar hiegenis. belum lagi bangunan-bangunan yang tidak jelas bentuknya. sempat terlontar kata-kata dariku, apakah sarjana kedokteran, teknik arsitektur dan teknik sipil lulusan unsrat dipercaya bekerja, sementara kampusnya sendiri sangat tidak meyakinkan. Ini ilmu terapan, yang butuh pembuktian fisik. di jayapura, yang kata banyak orang adalah daerah yang masih tertinggal, keadaannya tidak sememalukan seperti ini. aku tau, uncen bukan kampus yang dibangun kemarin sore. tapi keadaannya tertata dengan rapi. kontur geografis menjadi satu kesatuan yang baik dengan bangunan fisiknya. urusan kebersihan pun jauh lebih baik. aku tidak bisa mengatakan bahwa itulah kampus yang menyatu dengan lingkungan, jika banyaknya sampah-sampah lama berserakan. aku tau itu bukan sampah akibat libur, tapi sampah yang memang dibiarkan ada. jadi, untuk sekarang ini, kalau ada yg mau kuliah di unsrat, pikir-pikir lagi deh.. bukannya apa-apa sih, tapi ya.. itu, keadaannya itu lho. aku yakin sekali bahwa pemerintah memberikan bantuan kepada semua kampus negeri yang digunakan untuk peningkatan mutu sarana dan prasarana. aku belum tau apakah mutu pendidikan dan fasilitas pendidikan di unsrat berbeda dengan tampilan fisiknya.
shalat ied dilakukan seperti biasa, mengikuti sunnah Rasul, tidak ada yang berbeda, hanya saja dilakukan di masjid, tidak di lapangan. ya.. dalam hal ini ada yang kurang, yaitu soal tempat. setelah selesai, jamaah saling bersalam-salaman. kami pulang ke kos, ganti baju kemudian jalan-jalan keliling kota. di banyak tempat, aku temui warung dengan tulisan Mie Ba, Nasi goreng Ba, sate Ba. Ba adalah singkatan dari babi. Mungkin untuk menghaluskan kata saja, karena setahuku, di daerah timur, kata babi digunakan sebagai kata umpatan yang kasar. (bersambung, naskah yg lain blum sempat diedit)
